[Bekasi] Rute Angkot yang Tidak Bertambah

Disalah satu sudut kota Bekasi, penulis melihat fenomena ini…

Salah satu tugas pemerintah adalah menyiapkan sarana dan prasarana untuk masyarakatnya, salah satunya adalah sarana transportasi publik tetapi, apakah menurut kalian pemerintah sudah baik dalam mempersiapkan itu?

Jika kita berbicara Jakarta, pemerintahan sekarang sedang menyiapkan sarana itu semaksimal  mungkin walaupun terlambat. Pembangunan MRT dan pengembangan TransJakarta untuk lalu lintas intra ibu kota serta pembangunan LRT sebagai sarana penghubung menuju/ke ibu kota. Usaha-usaha tersebut dilakukan untuk mengurangi angka kemacetan dengan cara mengajak masyarakat menggunakan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi.

ahok-jokowi-1
Pembangunan MRT di Jakarta di mulai saat masa pemerintahan Jokowi dan Ahok

Pertanyaan selanjutnya apakah hal tersebut berhasil? nyatanya belum, kemacetan lalu lintas belum berkurang walaupun angka masyarakat yang menggunakan transportasi publik naik. Lantas, apa yang kurang?

Menurut penulis, hal ini tidak lepas dari tidak banyak bertambahnya rute-rute atau trayek baru transportasi umum padahal pembangunan ekonomi mendorong banyak pembangunan kantung-kantung pemukiman baru, masyarakat yang tinggal disana tentunya butuh transportasi umum dengan rute baru untuk membawanya ke pusat kegiataan ekonomi.

Sepertinya pemerintah agak abai menyiapkan transportasi umum dengan trayek baru karena masih terlalu sibuk dengan revitalisasi rute lama yang tak kunjung selesai, sehingga pada akhirnya masyarakat membeli kendaraan pribadi (minimal motor untuk mengantarnya menuju stasiun/terminal terdekat) untuk sebagai sarana transportasinya.

Odong-Odong Di Pinggir Kali

Salah satu pembangunan besar di Bekasi adalah Summarecon Mall Bekasi (SMB), SMB menarik banyak pengunjung, apalagi di sekitar kawasan SMB juga dibangun beragam kawasan kuliner yang menawarkan beragam jenis kuliner.

Hal ini berimbas pada tumbuhnya volume kendaraan yang menuju kawasan SMB yang juga menyebabkan banyak orang berusaha mencari rute alternatif menuju SMB diluar rute utamanya. Salah satu rute alternatif menuju SMB adalah melewati Jln. Kalibaru Timur Bekasi – Jln. Pangeran Jayakarta – Jln. Inspeksi Air Bekasi, ketiga jalan ini berdampingan dengan saluran irigasi Kota Bekasi.

odong-odong-kereta-mi-lain-lain-614818
Keamanan penggunaan odong-odong diragukan, apalagi ketika memuat banyak penumpang

Terdapat banyak pemukiman yang terletak di kedua sisi jalan, tetapi jalan tersebut tidak dilalui sama sekali oleh angkutan umum. Beberapa orang jeli melihat situasi ini, merekapun akhirnya menyediakan layanan angkutan umum di rute tersebut.

Terdapat dua jenis kendaraan yang melayani rute tersebut, kendaraan pertama adalah odong-odong kereta motor, sebuah kereta beroda yang digerakan oleh sepeda motor. Satu rangkaian terdiri dari satu kepada dan empat gerbong, setiap gerbong berkapasitas empat orang. Kendaraan ini melaju sangat lambat dan sering kali mengganggu arus kendaraan terutama ketika jam-jam sibuk ataupun akhir pekan. Odong-odong tidak memiliki sama sekali lampu rem ataupun lampu sein, sehingga sangat membahayakan keselamatan pengendara di jalan.

Kendaraan kedua adalah motor roda tiga berbak dan beratap, motor ini sebenarnya diperuntukan untuk mengangkut logistik atau barang tetapi dimodifikasi sehingga memiliki bangku di baknya serta di samping pengemudi, selain itu ditambahkan pula atap untuk meningkatkan kenyamanan para penumpang. Motor roda tiga ini memiliki fitur keamanan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan odong-odong.

odong-odong-2
Tidak berbeda jauh dengan odong-odong, faktor keselamatan penggunaan motor roda tiga berbak ini juga meragukan

Miris bukan? Pertama pemerintah tidak mampu menyediakan rute transportasi umum yang merata, kedua kendaraan umum seperti odong-odong dan motor beroda tiga pastinya tidak di uji KIR untuk memastikan kelayakan, ketiga ketidakhadiran pemerintah ini pada akhirnya mendorong pembelian kendaraan pribadi.

Seharusnya jangan puas dengan meminta perbaikan sarana dan prasarana transportasi publik, kita harus meminta lebih, minta pemerintah untuk menambahkan kan mengevaluasi rute yang ada.

Ditulis oleh seorang pengendara yang selalu terhambat karena odong-odong melaju sangat lambat

 

Zero Days (2016)

Dunia digital merupakan dunia tanpa hukum. Cara satu-satunya untuk selamat adalah menjadi kuat
Penulis

Kemajuan dunia teknologi informasi sangatlah pesat, kemajuan itu memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia, salah satu contoh nyatanya adalah bagaimana sekarang kita dengan mudah melakukan transaksi keuangan tanpa perlu datang ke cabang bank terdekat.

Suka tidak suka, kondisi ini membuat manusia menjadi sangat tergantung dengan teknologi, hampir semua aspek kehidupan  manusia dibantu oleh teknologi informasi, walaupun hal ini menjadi sebuah keuntungan tetapi sebenarnya menjadi sebuah titik lemah bagi kehidupan manusia.

Kau bisa menimbulkan kerusakan masif dan korban jiwa jika kau tahu caranya!

00

Tahun 2010 menjadi tahun yang mengejutkan untuk dunia keamanan digital, sebuah virus canggih teridentifikasi oleh Sergey Ulasen, Virus ini berjenis worm ini akhirnya diberi nama Stuxnet. Virus ini menyebar melalui Microsoft Windows dan menargetkan sistem kontrol industri milik Siemens.

Dari analisa beberapa perusahaan keamanan digital seperti Kaspersky Lab dan Symantec menyatakan bahwa virus komputer ini sangat khusus karena virus ini diciptakan untuk menyerang target yang sangat spesifik, selain itu pakar keamanan juga tidak menemukan bug disetiap kode yang ditulis. Mereka berpendapat bahwa virus ini pasti diciptakan oleh sekelompok orang yang disponsori oleh sebuah negara atau bahkan mungkin negara tertentu yang membuatnya.

Target dari virus ini akhirnya terkonfirmasi yaitu fasilitas nuklir yang dimiliki oleh Iran, tepatnya fasilitas pengayaan uranium milik Iran, virus ini berhasil menghancurkan perangkat pengayaan uranium milik Iran, walaupun pada akhirnya Iran bisa memperbaikinya kembali.

Stuxnet menjadi sebuah hal yang penting, hasil penyelidikan independen mengeluarkan kesimpulan bahwa virus ini merupakan proyek kerja sama antara Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara ini memiliki motif yang kuat untuk menyerang Iran, serta mencegah Iran memiliki kemampuan persenjataan nuklir.

Virus ini menjadi sebuah pion penting mengenai bagaimana dimensi baru perang tercipta. Kemajuan teknologi informasi telah membuat ‘Medan Perang’ baru diluar angkatan darat, laut dan udara, yaitu dunia digital/siber. Penciptaan Stuxnet merupakan sebuah peralihan paradigma ‘bertahan’ Amerika Serikat dalam dunia siber menjadi strategi menyerang.

‘Medan Perang’ ini merupakan medan baru yang belum memiliki hukum perang, hanya yang terkuat dan yang paling beranilah yang bisa bertahan dan dihormati. Dunia dimana tidak hanya pemerintah yang bisa bermain, tetapi pihak-pihak diluar pemerintah, semua pihak bisa ambil bagian, semua pihak bisa memiliki pasukan untuk bertahan dan menyerang.

Bagaimana di Indonesia? Apakah Negeri kita ini siap ketika ancaman perang itu datang?

Budaya Narsis Dimana-mana

Perkembangan dunia teknologi dan media sosial membuat manusia menjadi semakin mudah ‘narsis’.

Butu ambil foto? Cukup menggunakan handphone saja, Ketika kau pergi ke tempat baru, ketika kau makan, ketika kau kau lulus ujian, ketika kau patah hati, semua hal itu bisa dengan mudah kauumumkan ke siapapun yang kau kenal.

Narsis sudah menjadi gaya hidup bagi anak-anak muda sekarang, tetapi gejala itu juga bisa ditemukan di kaum yang lebih tua, terutama mereka yang bekerja sebagai pejabat pemerintah.

Coba sesekali kalian perhatikan, ketika mendekati hari raya keagamaan besar di Indonesia, berbondong-bondong pejabat pemerintah mengucapkan selamat hari raya lewat beragam media, seperti koran, baliho atau iklan. Dan, dimana dalam ucapan tersebut, selalu disertai dengan foto diri pejabat tersebut.

Apakah itu tidak menggangu mu?

Ucapan Selamat Politik
Iklan “Narsis”

Pernah terpikirkah bahwa mereka menggunakan uang negara untuk berkampanye demi kepentingan diri mereka sendiri? Mereka hanya memanfaatkan momen untuk menunjukan bahwa mereka ada, mereka eksis untuk mengejar suara, atau kenaikan jabatan.

Coba pikirkanlah….

Ditulis oleh seorang pembayar pajak yang taat dan pemilik hak suara
yang menanti perubahan politik di Indonesia

Warung Nasi yang Bermasalah

Bulan Puasa sebentar lagi datang, salah satu permasalahan yang sering muncul kepermukaan adalah bagaimana interaksi antara kaum mayoritas yang sedang menjalankan puasa dengan kaum minoritas yang tidak menjalankan puasa.

Ada beberapa pihak yang menuntut kaum minoritas yang memberikan pengertian kepada kaum mayoritas, adapula yang merasa bahwa justru kaum mayoritaslah yang seharusnya memahami kebutuhan kaum minoritas. Tergolong yang manakah dirimu?

02. Warung Nasi

 —

“Saya terlambat sahur, hanya sempat minum air putih secukupnya. Begitu tergodanya diriku ketika melihat warung nasi pinggir jalan di dekat kantor buka, dimana orang-orang tampak lahap makan siang serta minum es teh manis dingin di siang yang terik. Ingatanku soal warung nasi itu membuatku susah fokus dalam beribadah siang, sudah seharusnya warung makan itu tutup sampai menjelang buka karena warung tersebut menggangu kekhusuan ibadah.”

—-

“Saya terlambat sahur, hanya sempat minum air putih secukupnya. Warung nasi yang buka dipinggir jalan serasa memanggilku untuk masuk, tetapi aku tahu itu ujian saat bulan puasa untukku. Ingatanku soal warun yang buka itu tak menggangu ibadahku karena aku tahu bahwa puasa itu mempunyai arti pengendalian diri dari dalam, melawan hawa nafsu dan keinginan terhadap godaan dari luar. Tak tergodanya diriku untuk makan di warung nasi membuktikan aku kuat dalam berpuasa.”

 

Pernahkah kalian menghadapi keadaan seperti itu?

Celoteh penulis merasa bahwa inti dari berpuasa adalah mengendalikan diri dari hawa nafsu, di dalamnya tergolong dari nafsu makan dan minum, nafsu amarah, nafsu belanja, dan nafsu-nafsu manusia lainnya.

Artinya, ketika kita merasa bahwa ‘warung nasi’ harus tutup untuk menghormati bulan puasa merupakan sebuah bentuk ketidakpercayaan seseorang terhadap kemampuan manusia untuk melawan nafsunya, mereka lebih memilih cara mudah, yaitu menyingkirkan ‘segala bentuk godaan’ yang mungkin akan ‘menggangu prosesi keagamaan’ yang sedang ia jalankan.

Beranikah dirimu?

Terinspirasi dari pernyataan salah satu pemuka dari organisasi agama mayoritas di Indonesia yang arogan

 

 

Catatan Si Pengguna Commuter Line (1) – Kalau Bisa Murah kenapa Tidak?

Masyarakat Jabodetabek beruntung, karena dilayani oleh rute kereta komuter, sebuah bentuk transportasi masal yang berharga paling murah, sebagai acuan hanya dibutuhkan harga Rp2.000 untuk perjalanan dari stasiun Bekasi menuju stasiun Sudirman.

Commuter Line menjadi salah satu mode transportasi yang pertama kali menggunakan tiket elektronik. Tiket berbentuk kartu yang akan di ‘tap-in’ dan ‘tap-out’ di gerbang masuk dan keluar di setiap stasiun. Tiket ini merupakan pengganti tiket manual sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi transaksi Commuter Line.

Sebuah terobosan, tetapi tetap saja…

Para penumpang sepertinya enggan untuk menginvestasikan sedikit uangnnya untuk membeli kartu multi-trip, atau menggunakan  uang elektronik yang dikeluarkan beberapa bank sebagai tiket. Dihari kerja maupun hari libur kerap kita melihat antrian panjang calon penumpang untuk membeli tiket di setiap stasiun besar.

Saya tidak mengerti mengapa mereka betah untuk berlama-lama mengantri demi menghindari pembelian kartu senilai Rp25.000,- kartu? Baik itu kartu multitrip keluaran PT KAI maupun uang elektronik keluaran bank.

Mengapa?

Mungkin karena kebanyakan orang berpikir bahwa kartu terlalu mahal. Jika satu kartu multi-trip berharga Rp25.000,-, keluarga mereka berjumlah empat orang,berarti butuh Rp100.000,- untuk membeli kartu, padahal tidak semua anggota keluarga rutin menggunakan sarana Commuter Line sebagai sarana transportasi rutin. Uang sebesar itu rasanya sayang dikeluarkan, lebih baik disimpan untuk jajan anak-anak saat berwisata dengan kereta api.

Sedangkan alasan mengapa tidak mau menggunakan uang elektronik yang dikeluarkan oleh perbankan? Dugaan penulis adalah gejala ini bisa menjadi sebuah dasar penilaian bahwa masih banyak masyarakat di Indoensia yang tidak memiliki rekening di bank. Selain itu, masyarakat Indonesia masih belum terbiasa untuk melakukan transaksi non-tunai dalam keadaan sehari-hari.

Sebagai pengguna Commuter Line setiap harinya, saya merasa prihatin. Karena orang-orang tersebut harus antri berjam-jam untuk sekedar membeli tiket. Amat sangat tidak efisien ketika mereka menghabiskan waktu hanya untuk antri beli tiket.

03. Tiket Kereta
Tiket Multi-trip keluaran CL

Maksud dan tujuan penggunaan tiket elektronik untuk efisiensi dan efektivitas perjalananpun menjadi hilang makna, karena keengganan masyarakat untuk sekedar berinvestiasi kartu multi-tirp atau uang elektronik.

Solusinya?

Pihak pemerintah seharusnya memberikan subsidi terhadap penerbitan uang elektronik sebagai upaya untuk memsosialisasikan transaksi non-tunai, jika kaum-kaum tua sudah sulit diubah, tidak ada salahnya kampanye ini diarahkan kepada masyarakat dengan usia lebih muda, sehingga mereka terbiasa dengan budaya transaksi non-tunai.

Kalau bisa murah kenapa tidak? Setidaknya cuma menghabiskan beberapa waktu untuk mengantri beli tiket?

tulisan ini terinspirasi dari panjangannya antrian pembelian tiket di Stasiun Bekasi

Panggung Jakarta Milik Siapa?

“Tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan”

Panggung politik DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia kini sedang panas-panasnya, semua kubu tengah bersiap-siap untuk memasuki masa Pilkada, tahapan pilkada akan di mulai di pertengahan tahun ini, sedangkan pemilihan akan berlangsung tahun depan.

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta sekarang telah memutuskan untuk maju melalui jalur independen, Ahok mengandeng Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Jakarta, Heru Budi Hartono. Sebagai PNS, Heru harus mengundurkan diri jika ingin maju sebagai wakil gubernur.

dki-jakarta

Mampukah Ahok dan Heru memenangkan Pilkada Jakarta lewat jalur independen? Apakah partai-partai politik akan bersatu untuk menjegal Ahok-Heru? Adakah lawan tangguh yang akan dihadapi Ahok di Pilkada kali ini, apalagi setelah Ridwan Kamil dan Tri Risma Harini menolak untuk maju di Pilkada DKI Jakarta.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sini, yaitu:

  1. Masih ada birokrat negara yang berkualitas baik
    Pada awalnya, Ahok ingin mengandeng Djarot Saiful Hidayat, wakilnya sekarang untuk maju, tetapi negosiasi dengan PDI-P buntu. Ahok kemudian melirik Heru, seorang PNS karir yang memiliki prestasi sangat baik di era pemerintahan Jokowi-Ahok. Jatuhnya pilihan ke Heru membuktikan stigma negatif tentang PNS itu salah. Mengawali pengabdiannya 26 tahun lalu staf bagian penyusunan program Kota Jakarta Utara sekarang ini Heru tengah bersiap-siap untuk maju sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.,
  2. Maju lewat jalur Independen, Memungkinkan!!
    Penulis merasa bahwa partai politik di Indonesia tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, partai politik telah rusak dimana partai politik hanya digunakan sebagai kendaraan untuk melanggengkan kekuasaan, partai politik tidak berpihak kepada rakyat sebagai konstituennya. Praktik masif ketidakjujuran berlangsung tanpa henti, para legislator terhormat banyak berperkara dengan badan anti rasuah karena memakan uang rakyat. Pilkada menjadi salah satu bahan dagangan partai politik,  butuh mahar dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan dukungan dari partai politik di Indonesia.
    Beruntung bagi rakyat Indonesia, Undang-undang membuka celah melalui jalur independen, dan Pilkada DKI Jakarta akan menjadi sebuah panggung pertunjukan dimana terdapat kemungkinan ‘rasa tidak percaya’ masyarakat menang menghadapi mesin partai politik .
  3. Indonesia adalah Negeri yang Menjunjung Kesetaraan
    Dia berasal dari suku minorias di negeri ini, dia tidak seagama dengan mayoritas penduduk Jakarta, tapi sekarang berdiri mantap memimpin Jakarta. Isu SARA perlahan-lahan mulai kehilangan tempat di panggung pemilihan. Apakah semangat kesetaraan ini akan terbawa ke tingkat nasional, dimana pemimpin dinilai berdasarkan kinerjanya, bukan dari SARAnya? Apakah mungkin Indonesia akan memiliki Pemimpin yang berasal dari etnis minoritas dan agama minoritas. DKI Jakarta telah membuktikan sekali, Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.

Pangung Pilkada DKI Jakarta adalah milik masyarakat Indonesia, Presiden Jokowi muncul kepermukaan setelah memenangi Pilkada Jakarta karena Jakarta itu mini Indonesia.

Semoga Pilkada DKI Jakarta ini penuh dengan kejujuran, singkirkan segala kampanye hitam dan bersaingan dengan sehat!!

 

Spotlight (2015)

Peringatan: Tulisan ini mengandung spoiler dari film yang dimaksud.

Sebuah bukti kemenangan dari jurnalisme investigasi

Sungguh bukan kapasitas penulis untuk melakukan review kepada Spotlight (2015), sebuah film yang menenangi dua piala oscar untuk kategori “Best Motion Picture of the Year” dan “Best Writing, Original Screen Play”, sudah banyak tentunya review dari orang-orang yang lebih berkompetensi untuk membahas film ini, tetapi izinkan penulis untuk sekedar mengapresiasi dan berceloteh mengenai film ini.

002_p

Spotlight merupakan film drama yang menceritakan mengenai sepak terjang sebuah tim investigasi jurnalisme dari koran “The Boston Globe” mengenai kasus pelecehan seksual yang dilakukan gereja di kawasan Boston. Tim itu terdiri dari empat wartawan investigasi yaitu Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) serta Matt Carroll (Brian d’Arcy James), dibantu oleh Ben Bradlee Jr. (John Slattery) dan editor mereka Marty Baron (Liev Schreiber).

Tim Spotlight berusaha menelusuri kisah dugaan dimana Kardinal Law dari Boston melakukan pembiaran pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastur dan tidak melakukan upaya apapun untuk mencegah hal tersebut terjadi, bahkan di duga kardinal turut aktif melakukan upaya penutupan kasus tersebut.

Dalam investigasinya Tim Spotlight menemukan lebih banyak nama pastur yang terlibat dan upaya penutupan kasus tersebut merupakan hal yang sistemik, dan gereja memiliki peran sentral untuk menutupi jejak tersebut, Tim Spotlight berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak bukti dengan menelusuri lebih banyak korban. Pelan tapi pasti, tim berhasil menemukan orang-orang yang bersedia untuk bekerja sama untuk mengungkap kasus pelecehan seksual ini.

S_06902.CR2
Spotlight Team

—-

Salah satu fungsi media adalah memantau kekuasaan sehingga kekuasaan tidak menyalahgunakannya, di Indonesia contoh yang paling nyata adalah pertarungan tiada henti untuk membela KPK, di Amerika Serikat contoh nyatanya adalah bagaimana pers bisa membuat Richard Nixon mundur karena kasus penyalahgunaan kekuasaan.

Indonesia memiliki Majalah Tempo yang konsisten memberikan liputan-liputan investigasi, jika kita masih berada di jaman orde baru, pastinya Majalah Tempo sudah jauh-jauh hari ditutup oleh pemerintah, karena mereka memiliki hobi untuk “mengganggu” dan “Menjewer” sang punya kuasa di negeri ini.

Terdapat beberapa hal yang menarik yang bisa kita pelajari dari film ini, yaitu:

  • Menjadi Jurnalis Harus Jeli
    Film ini menyajikan fakta bahwa “The Boston Globe” sebenarnya telah menerima dua kali paket dari warga sipil dan pengacara mengenai masifnya perlakukan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastur gereja, tetapi wartawan dan editor disana tidak menanggapinya secara serius.
    Jurnalis harus jeli meneliti dan melihat sebuah petunjuk, walaupun itu datang dari orang yang mereka anggap tidak kompeten sekalipun. Selalu ingat bahwa “Jika ada asap, tapi ada sumber api”.
  • “Wakil Tuhan” juga Manusia Biasa
    Pastur merupakan wakil Tuhan di bumi ini, tetapi ia tetap manusia biasa yang tak bisa lepas dari kebutuhan dasar manusia dan dosa. Hal yang bisa kita pelajari disini adalah bagaimana kita harus terus bersikap waspada terhadap orang-orang yang kita percayai, selalu ada kemungkinan bahwa orang-orang tersebut mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap kita ataupun anak-anak kita.
    Statistika menunjukan bahwa pelaku pelecehan dan kekerasan seksual ternyata banyak berasal dari keluarga terdekat, orang-orang yang kita anggap tidak berbahaya dan kita percaya.
    Jamak pula kita dengar di Indonesia bahwa ada ustad yang melakukan pelecehan seksual, tetapi ada paradigma yang berbeda bagi orang Indonesia ketika hal tersebut terjadi, dalam beberapa kasus, seorang pria yang melakukan pelecehan seksual dikondisikan untuk menikahi korbannya!
    Apakah hal itu bijak? bagaimana seorang korban yang pastinya memiliki trauma tersendiri dikondisikan untuk berkeluarga dengan orang yang membuatnya trauma?
  • “Citra” lebih penting dari pada “Fakta”
    Pihak gereja berusaha untuk menutupi fakta bahwa terjadi pelecehan seksual masif yang dilakukan oleh pasturnya. Kasus itupun diupayakan diselesaikan dengan cara “kekeluargaan”, sehingga tidak ada tuntutan hukum yang terjadi kepada pelaku. Hal itu untuk melindungi “Citra” gereja, padahal citra tersebut sebenarnya tercoreng dengan perilaku oknum-oknum tertentu.

Jadi, buat apa membuang waktumu untuk membaca tulisan ini? Selamat Menonton