Salam Neighbor (2015)

Wanita dan anak-anak adalah korban sesungguhnya dari Perang

Perang saudara di Suriah adalah sebuah mimpi buruk di era modern, konflik antara pendukung rezim Bashar al-Assad dan tentara pemberontak, perang tersebut membuka kesempatan bagi tentara dari Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS) untuk merebut wilayah. Konflik ini membuat Suriah tercabik-cabik dan terombang-ambing ke dalam ketidakpastiaan.

04

Perang saudara serta konflik bersenjata ini telah memunculkan krisis pengungsi terburuk setelah perang dunia kedua. Warga sipil Suriah terpaksa mengungsi ke negara tetangga demi keselamatannya, salah satu negara yang banyak menampung pengungsi Suriah adalah Jordania.

Jordania berbatasan langsung dengan Suriah, mengungsi ke Jordania adalah salah satu pilihan logis para warga Suriah, pengungsi dapat menuju Jordania hanya dengan berjalan kaki melintasi bukit bebatuan serta gurun, tetapi sebagian besar dari mereka melakukannya pada malam hari, selain untuk menghindari panas terik gurun, mereka harus bersembunyi dari otoritas, jika otoritas mengetahui, mereka bisa ditembak mati.

Zach Ingrasci dan Chris Temple, dua sineas muda dari Amerika Serikat berusaha untuk mengangkat cerita mengenai pengungsi di Kamp Pengungsian Za’atari, Jordania, dimana hanya berjarak 11 kilometer dari perbatasan dengan Suriah. Zach Ingrasci dan Chris Temple mendapatkan izin resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendokumentasikan kehidupan 85.000 pengungsi. Faktanya, ada sekitar 80% pengungsi di Jordania tidak tinggal di kamp pengungsian, mereka tinggal di desa/kota dimana mereka bisa tinggal. Tentunya hal ini menambah beban bagi Jordania.

01.
Zach Ingrasci, Chris Temple serta kru bersama Raouf

Dari sekitar 85.000an pengungsi ini, Zach Ingrasci dan Chris Temple memfokuskan cerita terhadap lima individu yaitu Ghoussoon, seorang perawat yang terpaksa mengungsi bersama tiga anaknya, dimana ia menjalankan bisnis prakarya untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya, Um Ali, wanita paruh baya yang berjuang untuk menaklukan rasa kehilangan anggota keluarganya, Raouf, bocah berusia 10 tahun yang menyimpan trauma mendalam akan perang dibalik senyum dan keceriaannya, Ghassem, seorang pegawai negeri sipil di Suriah, yang berusaha membuat perbedaan hidup di kamp pengungisan serta Ismail, seorang mahasiswa yang berusaha mencari cara untuk membuat kehidupan di kamp pengungsian menjadi lebih baik.

—-

Kamp pengungsi Za’atari dibuka pertama kali pada 28 Juli 2012, Kamp ini pada awalnya dimaksudkan menjadi solusi sementara untuk menampung para pengungsi. Awalnya kamp ini hanya ditinggali oleh 15.000 pengungsi, dan seiring berjalannya waktu terus bertambah menjadi 85.000 pengungsi. Pelan tapi pasti, seiring dengan bertambahnya jumlah pengungsi, Za’atari mulai berubah menjadi pemukimanan tetap.

Kamp pengungsi ini mempunyai fasilitas yang lengkap, dimana para pengungsi mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, konsumsi, sanitasi, serta kelompok perlindungan anak dan wanita. Walau disebut kamp pengungsi, perlahan Kamp ini mulai menunjukan aktivitas ekonomi, dimana pasar rakyat mulai nampak, orang-orang mulai berinvestasi untuk rumah mereka. Kamppun mulai berubah menjadi sebuah kota.

02
Ghoussoon dan anak-anaknya

Hope, harapan itu terus ada dan bersemi. Harapan adalah satu-satunya yang membuat para pengungsi tetap bertahan hidup di tanah yang asing, harapan bahwa suatu saat nanti perang saudara yang berkecambuk akan selesai dan berakhir. Harapan dimana suatu saat nanti mereka bisa pulang ke Suriah dan kembali untuk membangun tanah air mereka.

Itulah kesamaan yang mereka punya, Ismail, Ghassem, Ghoussoon, Um Ali dan Raouf, mereka masih berharap bahwa konflik Suriah akan selesai, dan mereka bisa kembali ke negeri mereka untuk membangun kembali negeri mereka, walau mereka harus membangunnya dari nol.

Vues aériennes du camp de réfugiés
Kamp Pengungsian Za’atari

Make a love, not a war, karena perdamaian adalah segalanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s