Warung Nasi yang Bermasalah

Bulan Puasa sebentar lagi datang, salah satu permasalahan yang sering muncul kepermukaan adalah bagaimana interaksi antara kaum mayoritas yang sedang menjalankan puasa dengan kaum minoritas yang tidak menjalankan puasa.

Ada beberapa pihak yang menuntut kaum minoritas yang memberikan pengertian kepada kaum mayoritas, adapula yang merasa bahwa justru kaum mayoritaslah yang seharusnya memahami kebutuhan kaum minoritas. Tergolong yang manakah dirimu?

02. Warung Nasi

 —

“Saya terlambat sahur, hanya sempat minum air putih secukupnya. Begitu tergodanya diriku ketika melihat warung nasi pinggir jalan di dekat kantor buka, dimana orang-orang tampak lahap makan siang serta minum es teh manis dingin di siang yang terik. Ingatanku soal warung nasi itu membuatku susah fokus dalam beribadah siang, sudah seharusnya warung makan itu tutup sampai menjelang buka karena warung tersebut menggangu kekhusuan ibadah.”

—-

“Saya terlambat sahur, hanya sempat minum air putih secukupnya. Warung nasi yang buka dipinggir jalan serasa memanggilku untuk masuk, tetapi aku tahu itu ujian saat bulan puasa untukku. Ingatanku soal warun yang buka itu tak menggangu ibadahku karena aku tahu bahwa puasa itu mempunyai arti pengendalian diri dari dalam, melawan hawa nafsu dan keinginan terhadap godaan dari luar. Tak tergodanya diriku untuk makan di warung nasi membuktikan aku kuat dalam berpuasa.”

 

Pernahkah kalian menghadapi keadaan seperti itu?

Celoteh penulis merasa bahwa inti dari berpuasa adalah mengendalikan diri dari hawa nafsu, di dalamnya tergolong dari nafsu makan dan minum, nafsu amarah, nafsu belanja, dan nafsu-nafsu manusia lainnya.

Artinya, ketika kita merasa bahwa ‘warung nasi’ harus tutup untuk menghormati bulan puasa merupakan sebuah bentuk ketidakpercayaan seseorang terhadap kemampuan manusia untuk melawan nafsunya, mereka lebih memilih cara mudah, yaitu menyingkirkan ‘segala bentuk godaan’ yang mungkin akan ‘menggangu prosesi keagamaan’ yang sedang ia jalankan.

Beranikah dirimu?

Terinspirasi dari pernyataan salah satu pemuka dari organisasi agama mayoritas di Indonesia yang arogan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s