Jane Wants a Boyfriend (2016)

Mengandung Spoiler Cerita!!

“The only way one can guarantee one’s loyalty is love”
Vision – Captain America: Civil War

jane-wants-a-boyfriend-2015

Petikan itu yang pertama kali terlintas di pikiran penulis saat menyaksikan “Jane Wants a Boyfriend” (2016), sebuah film sederhana yang menceritakan kisah seorang penderita Sindrom Asperger, Jane (Lousia Krause) dalam mencari kekasihnya.

Konflik dalam kisah ini dimulai di hari ulang tahun Jane, kedua orang tuanya mengumumkan bahwa mereka berdua akan pindah ke tempat yang lebih tenang dibandingkan tinggal di pusat kota, mereka berharap Jane bisa ikut dengan kakaknya, Bianca (Eliza Dushku). Ide itu membuat Bianca bimbang karena Bianca sedang dalam proses tinggal bersama dengan kekasihnya, Rob (Amir Arison).

Sindrom Asperger membuat Jane menjadi individu yang sulit melakukan interaksi sosial serta komunikasi non-verbal. Hal itulah yang membuat Bianca menjadi orang yang over-protective kepada Jane, ia tidak percaya bahwa Jane bisa diberi kepercayaan sepenuhnya seperti orang dewasa pada umumnya.

Satu waktu, Jane bertemu dengan Jack (Gabriel Ebert), sahabat Jane yang terkenal sebagai seorang playboy. Bianca memperingatkan Jane bahwa Jack bukanlah pria yang baik untuknya, padahal Jane tertarik dengannya. Mereka berduapun bertengkar, Jane menuduh Bianca tidak pernah mengerti apa yang dia mau, ketika Bianca apa yang diinginkan Jane, ia menjawab.

“I want a Boyfriend!”

***

Kita takkan pernah tahu apa yang ada dibalik rencana tuhan, beberapa anak ada yang dilahirkan dengan kebutuhan khusus, sebuah kebutuhan yang harus dipahami oleh orang tua dan orang-orang disekitarnya.Tetapi sadarkah kalian, bahwa mereka tidak suka dipandang khusus, mereka ingin juga diperlakukan sama seperti orang-orang kebanyakan. Langkah Bianca untuk mencarikah Jane kekasih berakhir dengan kegagalan, karena Bianca berpikir untuk mencari pria dengan kebutuhan khusus juga agar ‘setara’ dengan adiknya, Jane.

jane_wants
Bianca dan Jane

Padahal Jane ingin dipandang normal. Inilah kesalahan yang mungkin sering dilakukan, tunjukan penghargaan kalian dengan memandangan mereka sebagaimana kita memandang orang kebanyakan. Pengertian mengenai kebutuhan khusus mereka harus ditunjukan dengan memahami dan mengerti, bukan dengan rasa iba dan kasihan.

Mampukah Jane dengan Sindrom Asperger menemukan pasangan yang ia nantikan? adakah seorang pria yang mampu untuk memahami Jane dengan sindromnya?

Selamat Menonton!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s