Panggung Jakarta Milik Siapa?

“Tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan”

Panggung politik DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia kini sedang panas-panasnya, semua kubu tengah bersiap-siap untuk memasuki masa Pilkada, tahapan pilkada akan di mulai di pertengahan tahun ini, sedangkan pemilihan akan berlangsung tahun depan.

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta sekarang telah memutuskan untuk maju melalui jalur independen, Ahok mengandeng Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Jakarta, Heru Budi Hartono. Sebagai PNS, Heru harus mengundurkan diri jika ingin maju sebagai wakil gubernur.

dki-jakarta

Mampukah Ahok dan Heru memenangkan Pilkada Jakarta lewat jalur independen? Apakah partai-partai politik akan bersatu untuk menjegal Ahok-Heru? Adakah lawan tangguh yang akan dihadapi Ahok di Pilkada kali ini, apalagi setelah Ridwan Kamil dan Tri Risma Harini menolak untuk maju di Pilkada DKI Jakarta.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sini, yaitu:

  1. Masih ada birokrat negara yang berkualitas baik
    Pada awalnya, Ahok ingin mengandeng Djarot Saiful Hidayat, wakilnya sekarang untuk maju, tetapi negosiasi dengan PDI-P buntu. Ahok kemudian melirik Heru, seorang PNS karir yang memiliki prestasi sangat baik di era pemerintahan Jokowi-Ahok. Jatuhnya pilihan ke Heru membuktikan stigma negatif tentang PNS itu salah. Mengawali pengabdiannya 26 tahun lalu staf bagian penyusunan program Kota Jakarta Utara sekarang ini Heru tengah bersiap-siap untuk maju sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.,
  2. Maju lewat jalur Independen, Memungkinkan!!
    Penulis merasa bahwa partai politik di Indonesia tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, partai politik telah rusak dimana partai politik hanya digunakan sebagai kendaraan untuk melanggengkan kekuasaan, partai politik tidak berpihak kepada rakyat sebagai konstituennya. Praktik masif ketidakjujuran berlangsung tanpa henti, para legislator terhormat banyak berperkara dengan badan anti rasuah karena memakan uang rakyat. Pilkada menjadi salah satu bahan dagangan partai politik,  butuh mahar dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan dukungan dari partai politik di Indonesia.
    Beruntung bagi rakyat Indonesia, Undang-undang membuka celah melalui jalur independen, dan Pilkada DKI Jakarta akan menjadi sebuah panggung pertunjukan dimana terdapat kemungkinan ‘rasa tidak percaya’ masyarakat menang menghadapi mesin partai politik .
  3. Indonesia adalah Negeri yang Menjunjung Kesetaraan
    Dia berasal dari suku minorias di negeri ini, dia tidak seagama dengan mayoritas penduduk Jakarta, tapi sekarang berdiri mantap memimpin Jakarta. Isu SARA perlahan-lahan mulai kehilangan tempat di panggung pemilihan. Apakah semangat kesetaraan ini akan terbawa ke tingkat nasional, dimana pemimpin dinilai berdasarkan kinerjanya, bukan dari SARAnya? Apakah mungkin Indonesia akan memiliki Pemimpin yang berasal dari etnis minoritas dan agama minoritas. DKI Jakarta telah membuktikan sekali, Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.

Pangung Pilkada DKI Jakarta adalah milik masyarakat Indonesia, Presiden Jokowi muncul kepermukaan setelah memenangi Pilkada Jakarta karena Jakarta itu mini Indonesia.

Semoga Pilkada DKI Jakarta ini penuh dengan kejujuran, singkirkan segala kampanye hitam dan bersaingan dengan sehat!!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s