Spotlight (2015)

Peringatan: Tulisan ini mengandung spoiler dari film yang dimaksud.

Sebuah bukti kemenangan dari jurnalisme investigasi

Sungguh bukan kapasitas penulis untuk melakukan review kepada Spotlight (2015), sebuah film yang menenangi dua piala oscar untuk kategori “Best Motion Picture of the Year” dan “Best Writing, Original Screen Play”, sudah banyak tentunya review dari orang-orang yang lebih berkompetensi untuk membahas film ini, tetapi izinkan penulis untuk sekedar mengapresiasi dan berceloteh mengenai film ini.

002_p

Spotlight merupakan film drama yang menceritakan mengenai sepak terjang sebuah tim investigasi jurnalisme dari koran “The Boston Globe” mengenai kasus pelecehan seksual yang dilakukan gereja di kawasan Boston. Tim itu terdiri dari empat wartawan investigasi yaitu Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) serta Matt Carroll (Brian d’Arcy James), dibantu oleh Ben Bradlee Jr. (John Slattery) dan editor mereka Marty Baron (Liev Schreiber).

Tim Spotlight berusaha menelusuri kisah dugaan dimana Kardinal Law dari Boston melakukan pembiaran pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastur dan tidak melakukan upaya apapun untuk mencegah hal tersebut terjadi, bahkan di duga kardinal turut aktif melakukan upaya penutupan kasus tersebut.

Dalam investigasinya Tim Spotlight menemukan lebih banyak nama pastur yang terlibat dan upaya penutupan kasus tersebut merupakan hal yang sistemik, dan gereja memiliki peran sentral untuk menutupi jejak tersebut, Tim Spotlight berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak bukti dengan menelusuri lebih banyak korban. Pelan tapi pasti, tim berhasil menemukan orang-orang yang bersedia untuk bekerja sama untuk mengungkap kasus pelecehan seksual ini.

S_06902.CR2
Spotlight Team

—-

Salah satu fungsi media adalah memantau kekuasaan sehingga kekuasaan tidak menyalahgunakannya, di Indonesia contoh yang paling nyata adalah pertarungan tiada henti untuk membela KPK, di Amerika Serikat contoh nyatanya adalah bagaimana pers bisa membuat Richard Nixon mundur karena kasus penyalahgunaan kekuasaan.

Indonesia memiliki Majalah Tempo yang konsisten memberikan liputan-liputan investigasi, jika kita masih berada di jaman orde baru, pastinya Majalah Tempo sudah jauh-jauh hari ditutup oleh pemerintah, karena mereka memiliki hobi untuk “mengganggu” dan “Menjewer” sang punya kuasa di negeri ini.

Terdapat beberapa hal yang menarik yang bisa kita pelajari dari film ini, yaitu:

  • Menjadi Jurnalis Harus Jeli
    Film ini menyajikan fakta bahwa “The Boston Globe” sebenarnya telah menerima dua kali paket dari warga sipil dan pengacara mengenai masifnya perlakukan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastur gereja, tetapi wartawan dan editor disana tidak menanggapinya secara serius.
    Jurnalis harus jeli meneliti dan melihat sebuah petunjuk, walaupun itu datang dari orang yang mereka anggap tidak kompeten sekalipun. Selalu ingat bahwa “Jika ada asap, tapi ada sumber api”.
  • “Wakil Tuhan” juga Manusia Biasa
    Pastur merupakan wakil Tuhan di bumi ini, tetapi ia tetap manusia biasa yang tak bisa lepas dari kebutuhan dasar manusia dan dosa. Hal yang bisa kita pelajari disini adalah bagaimana kita harus terus bersikap waspada terhadap orang-orang yang kita percayai, selalu ada kemungkinan bahwa orang-orang tersebut mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap kita ataupun anak-anak kita.
    Statistika menunjukan bahwa pelaku pelecehan dan kekerasan seksual ternyata banyak berasal dari keluarga terdekat, orang-orang yang kita anggap tidak berbahaya dan kita percaya.
    Jamak pula kita dengar di Indonesia bahwa ada ustad yang melakukan pelecehan seksual, tetapi ada paradigma yang berbeda bagi orang Indonesia ketika hal tersebut terjadi, dalam beberapa kasus, seorang pria yang melakukan pelecehan seksual dikondisikan untuk menikahi korbannya!
    Apakah hal itu bijak? bagaimana seorang korban yang pastinya memiliki trauma tersendiri dikondisikan untuk berkeluarga dengan orang yang membuatnya trauma?
  • “Citra” lebih penting dari pada “Fakta”
    Pihak gereja berusaha untuk menutupi fakta bahwa terjadi pelecehan seksual masif yang dilakukan oleh pasturnya. Kasus itupun diupayakan diselesaikan dengan cara “kekeluargaan”, sehingga tidak ada tuntutan hukum yang terjadi kepada pelaku. Hal itu untuk melindungi “Citra” gereja, padahal citra tersebut sebenarnya tercoreng dengan perilaku oknum-oknum tertentu.

Jadi, buat apa membuang waktumu untuk membaca tulisan ini? Selamat Menonton

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s