Perempuan Saudi Kini

Disclaimer: Judul dari artikel ini diambil dari headline Majalah National Geographic Indonesia (NGI) edisi Februari 2016.

Wanita itu mengenakan abaya hitam yang hanya menampakan matanya menghiasi cover NGI edisi Februari 2016. Eddisi kali ini NGI menurunkan laporan dari Lynsey Addario mengenai kondisi perempuan di salah satu negara yang paling konservatif di muka bumi, Saudi Arabia.

majalah-national-geographic-indonesia-februari-2016

Saudi Arabia merupakan negara dengan sistem pemerintahan absolut monarik yang berasaskan agama islam. Saudi Arabia berdiri pada 23 September 1932, negara ini dideklarasikan oleh Abdul Aziz Ibn Saud. Nama Saudi Arabia sendiri diambil dari namanya.

Saudi Arabia merupakan salah satu negara yang masih membatasi hak-hak terhadap wanita. Kita tidak akan melihat wanita mengendarai mobil di negara ini karena hal tersebut tidak diperbolehkan secara hukum, ketika seorang perempuan ingin berpergian keluar negeri dan mendapatkan paspport, mereka wajib mendapatkan persetujuan dari wali pria yang diakui secara hukum (ayah, suami atau anggota keluarga lainnya).

Kehidupan di Arab Saudi kental dengan pemisahan, antrian di toko dibuat untuk memisahkan antara pria lajang, dengan keluarga. Kita tidak akan melihat perempuan berjalan-jalan di Arab Saudi tanpa ditemani oleh Wali sahnya, selain itu.

Semua hal tersebut didasari dengan premis bahwa kebajikan masyarakat  dan perbuatan tercela dapat diatasi dengan memisahkan kaum pria dan wanita – bahwa secara kodrati kaum pria itu penuh nafsu dan kaum wanita itu penggoda.

Beruntung bagi Perempuan wanita di Arab Saudi, karena gelombang reformasi untuk meningkatkan hak-hak wanita langsung datang dari Raja Abdullah, pada tahun 2011 Beliau menyatakan akan menunjuk wanita untuk duduk di dewan penasehat kerajaan, di tahun 2015 wanita diperbolehkan untuk memilih dan dipilih dalam pemilu.

Raja Abdullah juga mendorong perempuan untuk meraih pendidikan serta bekerja di beragam sektor. Tetapi hal ini bukanlah perkara mudah, banyak tantangan terutama dikarenakan ‘kebijakan pemisahan’ yang dianut oleh negara tersebut.

Institusi-institusi pendidikan di Saudi Arabia memisahkan antara kelas pria dan wanita. Video conference menjadi alat bantu ketika pengajar berasal dari gender yang berbeda dari kelas tersebut. Sedangkan di tempat kerja, dilakukan pemisahan ruangan bekerja, terdapat wilayah-wilayah kerja yang dikhususkan untuk wanita, dimana pria dilarang untuk bekerja disana.

—-

Apa yang perlu dicermati dari artkel NGI edisi Februari 2016 ini adalah bagaimana isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sudah memiliki tempat disebuah negara yang terkenal dengan kekonservatifnya. Untuk beberapa kalangan konservatif di Indonesia, cara hidup di Arab Saudi sering kali menjadi role model dalam menjalani hidup.

Indonesia sudah memiliki catatan sangat baik mengenai kesetaraan gender dalam kehidupan. Indonesia sudah pernah memiliki presiden wanita, terdapat peraturan undang-undang yang mensyaratkan jumlah minimal keterwakilan perempuan dalam beberapa kegiatan politik.

Banyak contoh dimana perempuan Indonesia bekerja di bidang yang ‘sangat maskulin’ seperti pilot pesawat tempur sampai dengan supir bus gadeng TransJakarta. Selain itu tidak ada pembatasan terhadap wanita dalam mengakses pendidikan maupun pekerjaan.

Wacana dan ide untuk menempatkan wanita sebagai ‘mahluk kelas kedua’ yang diyakini golongan-golongan tertentu merupakan sebuah langkah mundur, karena di negara yang sering dijadikan contoh oleh golongan-golongan tersebut tengah berusaha mendorong perubahan kearah lebih baik mengenai kesetaran gender dan hak-hak wanita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s