Angkot Suzuki Carry 1.0 yang Kesempitan

Celoteh Tak Berujung
Kumpulan Tulisan Iseng dari Si Penyair

Angkutan umum banyak jenisnya, yang paling kita kenal adalah Commuter Line, sebuah angkutan umum berbasis rel, sedangkan untuk angkutan umum berbasis jalan raya kita mengenal adanya TransJakarta, Metromini, Koasi, Angkot, Bus Mayasari Bakti.

Di Kota Bekasi, seperti halnya kota-kota lain di Indonesia memiliki angkutan umum kecil (angkot, koasi, atau apapun sebutannya) yang berbasis kendaraan minibus. Angkot yang sering saya tumpangi menggunakan ‘Suzuki Carry 1.0’ yang bagian kabin penumpangnya sudah dimodifikasi agar memuat penumpang sejumlah sepuluh orang.

“6-4…6-4”
Itulah teriakan yang sering terdengar dari timer-timer di tempat mangkal angkutan umum kecil. Angka-angka itu berarti, “Mohon bantuannya kepada penumpang agar kursi disisi sebelah kanan diisi enam orang, sedangkan sisi sebelah kiri diisi empat orang.”. Total penumpang? Jika ditambah penumpang di kursi tambahan dan disamping supir jumlah total penumpang menjadi empat belas orang.

Luar biasa memang yang namanya angkot, tetapi masih seringkah kalian melihat angkot full seperti itu? Rasanya tidak, dari pengalaman saya kebanyakan angkot-angkot itu sekarang hanya bisa diisi penumpang dengan formasi ‘5-3’.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mendorong peningkatan kesejateraan masyarakatnya, salah satu dampak negatifnya adalah semakin banyak masyarakat Jabodetabek yang semakin ‘subur’ (baca:gemuk), sehingga menyita volume di dalam kabin kendaraan. Masalahnya adalah angkot-angkot sekarang ini banyak yang berusia tua, sehingga dimensi dan volume mobil tersebut tidak sesuai dengan rata-rata volume tubuh masyarakat Jabodetabek yang semakin membesar.

Masalah itu terutama dirasakan angkot-angkot yang menggunakan mobil berjenis ‘Suzuki Carry 1.0’, sedangkan untuk angkot yang menggunakan mobil berjenis ‘Kijang kapsul’, atau jenis lainnya masih tertolong karena memiliki dimensi yang lebih besar dibandingkan angkot tersebut.

Akibatnya, daya angkut angkot menjadi tidak maksimal berefek kepada pendapatan supir angkot yang tidak maksimal pula. Mungkin itulah alasan perusahaan penerbangan di USA (maaf OOT) yang mewajibkan seseorang yang overweight  untuk membayar dua tiket penerbangan. Mungkinkah peraturan itu diberlakukan disini untuk penumpang angkot? (silakan jawab sendiri).

Isyarat lain yang bisa kita tangkap adalah tidak banyaknya usaha untuk melakukan revitalisasi kepada mobil-mobil tersebut, mungkin karena margin usaha dari angkutan umum ini kecil serta banyaknya hambatan dalam masalah perizinan.

Semoga saja, para pengusaha angkot (yang didukung dengan subsidi dari pemerintah) bisa melakukan peremajaan angkutannya, sehingga menambah kenyamanan masyarakat dalam menggunakan angkutan umum. Serta, semoga masyarakat Jabodetabek mulai memikirkan untuk mengurangi masa tubuhnya, karena overweight menjadi pintu gerbang ke beragam penyakit.

Salam Sehat!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s