Ini Kursiku…

Celoteh Tak Berujung
Kumpulan Tulisan Iseng dari Si Penyair

Kalau bicara kepedulain sosial, memang kita tidak bisa menyamaratakan semua orang, ada orang yang begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya, ada juga yang acuh dengan kehidupan sekitarnya. Itulah karakter orang hidup. Tetapi, tetap saja rasanya sangat menjengkelkan ketika kita melihat orang-orang yang “bertingkah seperti raja” ketika menempati kursi-kursi prioritas di gerbong-gerbong KRL.

Peraturan menyatakan bahwa kursi tersebut diprioritaskan khusus kepada manula, Ibu Hamil, Ibu dengan membawa anak, serta penyandang cacat, tetapi kenyataannya terkadang kursi tersebut diisi oleh orang-orang yang tidak berhak.

Banyak trik yang dilakukan para ‘penyerobot’ tersebut, trik yang paling mudah adalah pura-pura tidur atau pura-pura hamil, mungkin untuk yang ‘pura-pura tidur’ lebih mudah disadarkan akan kesalahannya, tetapi bagaimana dengan orang yang pura-pura hamil?, bagaimana cara membuktikannya?

Para petugas keamanan biasanya akan menyerah ketika perempuan-perempuan yang duduk disana berkata “saya hamil”. Yah, apa boleh buat, dia mengaku hamil, kalaupun berbohong biar itu menjadi urusan dia dengan Tuhannya. (note: Mohon kalau mau pura-pura hamil, jangan lupa gunakan cincin di jari manis sebelah kanan, biar kami-kami tak curiga, jangan-jangan hamil diluar nikah).

Mari kita bergeser ke bangku non-prioritas di KRL. Bangku-bangku ini menjadi sebuah ‘medan tempur’ yang luar biasa, hukum rimba yang berlaku disini, yang terkuat dan tercepat dialah yang menempati, ketika sudah duduk, susah rasanya memberikan bangku tersebut untuk orang lain. Mereka seolah berkata, “Ini hasil perjuanganku, jangan coba-coba kau ambil!”.

Mengherankan memang, mengapa para individu yang berhak duduk di kursi prioritas seakan enggan untuk mencari pertolongan di kursi umum tersebut, petugaspun seakan ragu untuk membantu mencarikan tempat duduk di kursi umum untuk yang membutuhkan (terutama di jam sibuk).

Kalau dipikir-pikir mendalam, para pejuang di kursi umum berpikir “Lw sudah punya jatah di kursi prioritas, jangan ganggu gw!”, sedangkan para penghuni kursi prioritas juga berpikir “Sudah ada tempat yang dikhususkan untuk saya, saya tidak boleh menggangu penumpang yang duduk di kursi umum!”. Tetapi, masalah yang sering terjadi adalah kalau kursi prioritasnya penuh bagaimana?

Disinilah posisi kepedulian sosial hadir, para penghuni kursi umum harus mempuyai kepekaan untuk tahu bahwa ada orang-orang yang membutuhkan yang tidak kebagian kursi priortias. Tindakan kecil yang bisa dilakukan adalah setidaknya membuka mata setiap kereta berhenti distasiun dan memasang radar adakah indvidu yang membutuhkan kursi.

Hormati penumpang lain, jika anda ingin dihormati

Salam ANGKER (Anak Kereta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s