Bacaan Pertamaku

Celoteh Tak Berujung
Kumpulan Tulisan Iseng dari Si Penyair

Malas membaca, itulah salah satu penyakit yang menjangkiti masyarakat Indonesia, padahal kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia, buku merupakan ‘cara mudah’ seseorang untuk belajar dan mengetahui hal-hal baru dalam kehidupan.

Nasih yang sama juga terjadi pada perpustakaan, sulit rasanya berharap mendapatkan kualitas yang baik dari perpustakaan-perpustakaan milik pemerintah, bukunya tidak update, letak perpusatakaan yang terpencil (susah diakses), pelayanan yang seadanya dan tidak nyaman. Bagaimana dengan semua hal itu orang-orang mau datang untuk membaca buku.

Perpusatakaan-perpustakaan swasta menawarkan hal yang menjanjikan, walaupun saya belum pernah datang langsung kesana, tetapi dari cerita teman-temannya saya, perpusatakaan tersebut sangat menyenangkan, ruangannya bagus, buku bacaannya update, serta pelayanan yang maksimal, dan mungkin saja dengan menawarkan hal seperti itu minat masyarakat untuk membaca jauh lebih meningkat, mungkin…

Penetrasi smartphone ke dalam kehidupan masyarakat juga semakin menjauhkan masyarakat umum dari kegiatan membaca, jika kita melihat perilaku komuter di kereta, saat perjalanan mata mereka tidak bisa jauh dari layar smartphone mereka, banyak yang lebih asik bermain game, ada beberapa sosok yang terlihat membaca, alhamdullilah ketika mereka setidaknya membaca berita, tetapi banyak juga yang hanya membaca update-update serta notifikasi yang muncul dari akun social media  mereka.

Menumbuhkembangkan minat baca memang perkara yang sulit, banyak factor yang mendorong semakin menjauhnya masyarakat dari buku bacaan. Budaya membaca haruslah dipupuk mulai dari masa kanak-kanak, masa dimana manusia sangat mudah ‘dimanipulasi’.

Penulis berkenalan membaca melalui media komik dan majalah, ‘Doraemon’, ‘P-Man’ merupakan komik-komik pertama yang penulis baca, lambat laun kualitas bahan bacaan mulai meningkat, penulis memilih untuk membaca ‘orbit’, sebuah majalan sains anak-anak yang mengenalkan banyak kepada penulis bahwa ‘dunia itu masih sangat luas’.

Hidup takkan pernah lepas dari masalah hukum, keamanan dan politik, itulah yang penulis temukan ketika mulai membaca Koran Tempo, membaca koran ini begitu berkesan buat penulis, karena waktu itu Koran Tempo memutuskan untuk mengubah ukuran korannya menjadi ukuran tabloid sehingga mudah dibaca.

Terakhir adalah perkenalan penulis dengan Majalah National Geographic Indonesia. Majalah ini semakin membuka wawasan saya mengenai dunia, dan saya semakin merasa beruntung bahwa saya gemar membaca.

Setelah berpenghasilan, membeli buku/majalah menjadi urusan yang menyenangkan. Rasanya tidak pernah tahan untuk tidak memborong buku-buku diskon, buku-buku itu rasanya memanggil-manggil kita untuk membelinya dan membacanya.

Jadi, ayo baca buku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s